Dalam Pengendalian Emosi, Kamu Tipe Yang Mana? Si Lautan atau Si Gunung?

Intensitas aktivitas yang dijalani sehari-hari terkadang membuat kamu penat selepas menjalaninya. Belum lagi dengan keadaan lingkungan sekitar kamu yang tak jarang pula menambah beban pikiran yang kamu miliki. Sebab kejenuhan tersebut, membuat keadaan mental mu terganggung. Ketika semua seakan terasa meledak, dari setiap diri kita punya caranya sendiri dalam meluapkannya. Ada yang memilih untuk langsung meluapkannya tanpa berpikir satu dua kali apa saja yang terucap sebab kejenuhan yang dirasakan, pun ada yang memilih untuk memendam dan memilih untuk tidak menyampaikan apa yang dirasakan dengan sepenuhnya. Setidaknya dari kedua hal tersebut, semua itu didasari oleh banyak faktor.

Hal ini sebenarnya menarik untuk bersama dikulik. Untuk kamu yang memiliki karakteristik memendam perasaan,  serta sungkan untuk mengatakan yang sebenarnya bisa disebut dengan “Si Lautan”, sedang untuk kamu yang memiliki kecondongan untuk meluapkan perasaan mu secara gamblang bisa disebut dengan “Si Gunung”. Dari dua hal ini, pastilah memiliki sudut pandangnya sendiri, baik kurangnya dari dua hal ini pasti terdapat didalamnya.

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai dua hal tersebut, baiknya kita mengetahuinya dari awal.

Emosi

Emosi merupakan perasaan intens yang ditunjukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi sendiri merupakan bentuk reaksi kepada seseorang ataupun kejadian yang ada. Hakikatnya pada diri manusia emosi merupakan suatu hal yang lumrah dimiliki oleh manusia. Dengan emosi pula, manusia mampu merasakan sesuatu ataupun dapat merespon sesuatu yang terjadi terhadap dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

Berjalannya waktu, manusia akan mengalami pematangan baik secara fisik maupun pikiran. Dalam proses ini pula, keadaan emosi seseorang mulai ikut terbentuk secara utuh. Contoh ketika kamu di usia enam tahun, kamu merengek untuk dibelikan sesuatu yang kamu inginkan tetapi orang tuamu tidak memenuhinya. Maka respon akan hal tersebut kamu akan menangis dan merajuk beberapa saat. Beda ketika usiamu memasuki belasan tahun, ketika kamu menginginkan sesuatu tetapi keadaan orang tuamu yang belum bisa untuk memenuhinya maka kamu akan menunjukan sikap yang lebih dewasa, dimana kamu sudah mulai memahami keadaan serta situasi. 

Sejauh ini kita sudah mulai memahami, bahwa emosi adalah hal yang lumrah adanya. Dengan adanya emosi yang terdapat di dalam manusia maka kita mampu merasakan serta memahami sesuatu yang terjadi terhadap diri kita maupun lingkungan kita. Proses pembetukan emosi ini juga penting adanya. Tatkala emosi ini terbentuk secara tidak utuh maka akan membentuk karakteristik tersendiri bagi manusia. Namun bagaimana jika itu tidak terkontrol secara baik?

Emosi yang tidak terkontrol secara baik akan menimbulkan penerimaan secara tidak baik. Ketika kamu mengalami sesuatu yang kiranya membuatkan tak nyaman, maka respon itu akan muncul. Ada dari diri kita memilih untuk langsung meluapkannya secara tegas, pun ada yang memilih untuk diam dan memendam perasaan yang dirasakannya.

Apa Kamu Si Gunung?

Jika kamu memiliki kecenderungan untuk meluapkan emosi yang kamu rasakan secara langsung atau dikenal dengan “Si Gunung”, apa kiranya hal yang akan terjadi?

  • Bisa jadi perkataanmu melukai hati seseorang
  • Membuat penilaian orang lain kepadamu menjadi kurang baik (temperamental)
  • Terganggunya komunikasi kepada orang lain

Atau Kamu Si Lautan?

Kemudian bagaimana jika kamu “Si Lautan” memiliki kecenderungan untuk memakan mentah-mentah perasaan yang kamu rasakan karena alibi “tidak nyaman dengan orang lain”, bagaimana ya jika kamu terus menerus merespon keadaan tersebut dengan cara itu?

  • Terjadi kesalah fahaman yang justru menjadi pemicu masalah baru
  • Justru memperkeruh perasaan kamu karena tidak bisa menyalurkannya
  • Menjadi bom waktu (menimbun masalah) untuk kedepannya

Tak salah memang untuk langsung mengungkapkan apa yang kita rasakan secara langsung, namun alangkah baiknya kita mencoba untuk menerima dan mengolah dengan bijak apa yang terjadi. Pun dengan memendam rasa yang kamu rasakan. Tidak selamanya baik kamu lakukan. Hal itu dikarenakan dapat membuatmu justru semakin terjerumus karena tak mampu untuk menyalurkannya sepantasnya.

Cara Untuk Mengelola Emosimu

Respon terhadap apa yang terjadi terhadap diri kita memang beragam, dan semua itu memiliki sisi baik maupun kurang baiknya masing-masing. Menurut Hube : 2006 proses pengendalian emosi ini setidaknya ada tiga fase yang dilalui, yakni :

  1. Pengalihan/Displacement

Sesuai dengan poin yang disampaikan, dalam fase ini merupakan suatu upaya yang dilakukan terhadap apa yang baru saja dirasakan. Banyak dari kita memilih untuk menyalurkan perasaan yang sedang kita rasakan dengan bentuk kegiatan lainnya, semisal menulis, melukis, ataupun dengan kegiatan kreatifitas lainnya yang mampu menjadi media penyaluran perasaan. Hal ini merupakan upaya yang baik dilakukan ketika kamu sedang merasakan sesuatu yang membuatmu gundah.

  1. Penyesuaian Kognitif/Cognitive Adjustment

Selepas hari-hari berat yang kamu rasakan, maka kamu akan menemui penyesuaian ini. Kamu mungkin akan memikirkan kembali hal-hal yang telah terjadi, serta kamu akan mencoba untuk merefleksikannya terhadap diri kamu. Di tahap ini bisa jadi kamu mulai bisa memahami kenapa hal-hal itu memang terjadi untuk dirimu. Semua itu merupakan sebuah proses untuk membuatmu menjadi seorang yang hebat. Seperti ketika kamu mulai mengikhlaskan sesuatu yang hilang, maka disitulah point terpenting pada elemen ini.

  1. Coping Strategy

Kamu sudah menjadi sosok yang hebat, di fase ini kamu akan lebih kuat kembali. Kamu telah melewati proses panjang, dan siapa sangka jika hal yang telah terjadi sebelumnya terulang kembali kamu justru akan tangguh dan tahu harus melakukan apa. Dalam situasi tersebut maka kamu sudah memiliki pengalaman yang bisa membuatmu menjalani hari-harimu dengan kuat. Mungkin ketika kamu kembali mengalami sesuatu yang pernah kamu alami, maka kamu juga tahu harus melakukan apa. Seperti ketika kamu kembali kehilangan sesuatu yang kamu sayangi, maka kamu juga tahu langkah apa yang akan kamu lakukan. 

Setidaknya hal-hal tersebut merupakan bentuk respon serta langkah yang bisa dilakukan untuk menanggapi sesuatu yang membuat gundah diri kita. Semua merupakan hal yang baik selama kamu tidak merugikan dan melukai baik dirimu sendiri ataupun orang lain. Jangan lupa untuk tersenyum, karena kamu adalah sosok yang hebat!

Penulis: Afif Dharma Poetra

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Emosi

https://journal.uii.ac.id/Unisia/article/view/10495

https://journal.ugm.ac.id/jpsi/article/view/7692/5958

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *